jump to navigation

Menjadi Hebat Karena Cinta Tokoh-Tokoh Hebat (Pengalaman 50 menit bersama Gus Dur di Tebuireng) 2 January 2010

Posted by zaidromly in Internet.
trackback
facebook : Atunk
Senin lalu (14/12/09) aku sempat menemukan buku bagus di Perpus Tebuireng. Judulnya Syahsiyyah Shufiyyahkarya pena Toha Abdul Baqi Surur. Ternyata kitab kuno terbitan Mesir 1948 itu milik Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Di samping ada tanda tangan beliau, pada halaman pertama juga terdapat stempel merah bertulisakan “Koleksi Keluarga KH A Wahid Hasyim.”


Setelah membaca dua bab di dalamnya, tibat-tiba aku teringat pengalaman beberapa tahun lalu bersama Gus Dur di Tebuireng. Kebiasaaan beliau mengunjungi Tebuireng hanya untuk berziarah ke makam leluhurnya. Itupun dilakukan pada tengah malam. Jadi, sedikit sekali santri yang tahu kalau Gus Dur ke Tebuireng. Sudah sekitar satu setengah tahun beliau tidak berkunjung. Aku berharap kami (para santri) bisa bertermu lagi dengan sosok wahiduzzamanina itu.

Tak disangka, sekilas doaku di perpustakaan itu terwujud. Alhamdulillah. Ketika malam Jum’at (24/12/09) aku dan kawan-kawan mahasiswa ngelembur tugas, tepat pukul 00:04 ada sms masuk di hp. Dari Ust. Manshur, katanya; Sekarang Gus Dur di Makam! Bergegas kami tinggalkan berkas-berkas di meja tugas langsung menuju Makam.


Sesampainya di sana, Gus Dur belum turun dari mobil. Kemudian dipapah menuju pusara makam bersama sang Istri tercinta dengan kursi rodanya. Gus Sholah dan Nyai Ida pun ikut mengantar menemani tahlilan di makam. Ketika itu keadaan makam amat ramai, maklum pesarean KH Hasyim Asy’ari tiap hari memang tak pernah sepi dari para zairin terlebih malam Jum’at.


Setelah acara tahlil yang dipimpin Ust Umbaran (kepala Madrasah Diniyyah) usai, Gus Dur minta diantar menuju makam KH Yusuf Masyhar di Madrasah Huffadz (seberang jalan Tebuireng). Ketika itu ada lima orang yang mendorong kursi roda beliau, Ust. Su’udi (kepala Madrasah Muallimin), Ust. Ihsan (Abdi Ndalem Kesepuhan), Ust. Safruddin (Alumni pondok Ciwaringin Cirebon), satunya tim keamanan Gus Dur dan yang terakhir aku .


Gerbang Pondok menuju makam Mbah Yusuf terkunci. Terpaksa ada yang memanjat pagar. Keadaan pondok sepi hanya beberapa santri yang terjaga di makam menghafal Al-Qur’an. Gus Sholah dan para ust. Pondok Tebuireng masih mengikuti agenda Gus Dur di makam Huffadz diikuti juga para wartawan tuk meliput berita. Kali ini yang memimpin tahlil adalah adik sepupu beliau, Gus Hakam (Pendiri pondok darul Hakam, putra Kiai Khalik Hasyim).


Setelah tahlil berakhir aku sempat nguping pembicaraan Gus Dur dan Istrinya. Mula-mula Gus Dur bertanya “Jam berapa sekarang?”. Lalu dijawab “Jam satu kurang”. Gus Dur meminta agar diantar ke Mojosongo mencari makanan di pinggir jalan (kalau nggak salah nasi kikil). Sontak Bu Sinta, dan Nyai Ida panik. Malam-malam begini kok minta yang aneh-aneh. Keduanya khawatir dengan kesehatan Gus Dur.


Terpaksa sang Istri membohonginya. “Ya sudah tutup-lah, Mas”. Gus Dur langsung mengelak dengan bahasa Jawanya, “Bagaimana tutup lha wong bukaknya ya malam itu kok” (ternyata Gus Dur masih hafal betul keadaan kota kelahirannya, Jombang).


Akhirnya Gus Dur masuk mobil terlebih dahulu. Dan yang lain sedang berdiskusi ringan di luar. Entah apa yang diomongkan aku tidak tahu. Tapi sang sopir sedikit bercerita, bahwa sebelum ke Tebuireng tadi sempat menemui Gus Mus di Rembang. Lalu ingin ke Surabaya. Tiba-tiba ketika di Jombang mendadak beliau menyuruh belok ke Tebuireng dan ke Trowulan. Dan, sekarang ini beliau meminta ke utara Tebuireng.
***
Itulah sekilas sosok Gus Dur. Orang yang dinilai dan diakui “hebat” dari segi mana pun dan oleh siapa pun. Segi Nasab, Intelektual, Seni-Budaya, Humor, pergaulan dll. Beliau sangat menyukai silaturrahmi dan ziarah. Inilah kebiasaan yang dimiliki orang. Entah apa tujuannya beliau memiliki hobi itu. Tapi aku sempat yakin bahwa dengan menemui orang-orang hebat (baik yang masih hidup atupun wafat) kita akan ketularan berkahnya.


Itulah yang Gus Dur lakukan. Dia bisa hebat karena dia akrab dengan banyak orang hebat. Beda dengan kita yang ingin menjadi orang hebat tapi tidak kenal dan tidak mau kenal dengan orang-orang hebat.


Bayangkan, malam itu kondisi Gus Dur masih belum pulih benar. Di tangan kanannya masih terbalut perban infus. Mobil rumah sakit mini pun terus membuntutinya kemana ia pergi, para kerluarga khawatir dengan kesehatrannya. Tapi sebisanya Gus Dur harus bersilaturrahmi ke berbagai tempat menemui orang-orang hebat. Karena beliau selalu ingin bisa seperti orang-ortang hebat itu…


Tebuireng, 25 Desember 2009 


Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: